Rabu, 13 Mei 2009

ingkat kata, saya tidak memiliki intention untuk melakukan gerakan Java ubber alles sebagaimana Hitler melakukan Deutsch ubber alles di masa resesi Jerman. Saya juga tidak memiliki niat untuk mendirikan partai “Pandhawa Lima” sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pakdhe dan mbokdhe yang ada di Suriname agar orang Jawa memiliki peran dalam dunia politik karena memang secara statistik jumlahnya membengkak. Ibaratnya, kalau ada partai yang bercorak kesukuan dan masing-masing suku diwajibkan untuk memilih partai kesukuannya, orang Jawa sudah pasti menang.

Orang Jawa, memiliki akar yang kuat dalam melakukan personal branding. Mereka sangat memperhatikan values atau nilai dan berusaha untuk menunjukkan nilai-nilai itu dalam perkataan, dalam adat istiadat berpakaian serta dalam bersikap dan berperilaku. Terdapat beberapa pengajaran dalam bahasa lisan :

  1. Ajining diri ono ing lathi
  2. Ajining rogo ono ing busono
  3. Ajining ngelmu kuwi ono ing laku
  4. Niteni, nirokke lan nambahi

Ajining diri ono ing lathi atau harga dari diri ada pada perkataan, dimana perkataan bagi orang Jawa merupakan sesuatu hal yang harus diugemi dimanapun dan kapanpun sehingga perkataan turut membentuk citra diri. Ajining rogo ono ing busono atau harga dari tubuh/raga terletak pada bagaimana berpakaian atau mengemas sikap dan perilaku. Ajining ngelmu ono ing laku atau harga dari knowledge yang kita miliki tergantung pada proses perjalanan operasional kita dalam kehidupan. Dalam proses perjalanan operasional kehidupan seseorang harus senantiasa bisa niteni (memperhatikan secara seksama, sedetail-detailnya), nirokke (mencontoh dari yang telah ada) dan nambahi (menambah hal-hal yang telah ada dan baik pada yang kita contoh).

Dari keempat pengajaran itu, dapat kita buat re-kontekstualisasi dalam era kekinian. Dalam konteks perusahaan, sebuah perusahaan senantiasa harus memperhatikan aspek image, baik image dari sisi perusahaan (corporate image) maupun dari sisi produk (produk image) dan keduanya merupakan asset perusahaan berupa brand image. Image terebut terletak pada “corong” atau saluran perusahaan dalam menyuarakan eksistensi kedirian perusahaan. Sebuah perusahaan harus memiliki Humas dan Marketing yang baik dan handal (bisa dijadikan sebagai piandel untuk memeproleh kamesthen). Selain itu, perusahaan dalam melakukan kegiatannya harus memiliki knowledge yang bagus dan inovatif secara operasional dalam menghasilkan value bagi pelanggan. Di dalam perusahaan terdapat pembelajaran yang kontinyu sebagai modal dasar dalam melakukan perbaikan yang berkelanjutan. Proses perbaikan dan berkelanjutan tersebut diperoleh melalui prosesi niteni (ilmu titen) yang merupakan suatu proses perbaikan internal dengan memperbaiki diri melalui evaluasi diri dan benchmarking perusahaan terhadap perusahaan lainnya. Niteni ini bukan dalam rangka nanding salira atau membanding-mbandingkan dengan ego, namun dengan intelektualitas pembeda dengan niyat perbaikan sehingga bisa melakukan penambahan atau nirokke. Dalam nirokke terdapat tepo saliro karena melakukan itu tanpa ego. Inilah yang disebut sebagai mulat sarira atau mawas diri. Kemudian dengan melakukan perbaikan berdasarkan benchmark, nirokke dilakukan penambahan dengan berani melakukan inovasi atau mulat sarira hangrasa wani. Berani untuk melakukan inovasi sehingga dihasilkan terobosan-terobosan baru.

Personal branding ala Jawa ini, telah berhasil pada suatu masyarakat agraris yang mengandalkan keseimbangan diri dengan lingkungan. Namun, apakah tetap bisa dilakukan pada suatu waktu, dimana tipikal masyarakat agraris harus menyesuaikan dengan situasi kondisi kekinian dan berada dalam ranah kompetitif tanpa kehilangan karakter kolaboratif masyarakat lokal ? Dan hal inipun dalam falsafah Jawa terdapat adagium, “manjing, ajur, ajer” atau falsafah fleksibilitas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar